sejarah ilmu managemen, chapter 10

Peter Ferdinand Drucker (19 November 1909–11 November 2005)

and the practice of management



Biography

Peter Drucker lahir di Vienna, pada tahun 1909 dari keluarga kelas menengah yang berkecukupan. Ayahnya, Adolph, adalah seorang pengacara international yang ternama, merupakan salah seorang pencetus festival Salzburg. Drucker lulus dari sarjana pada tahun 1927 di Vienna, dan mendapatkan gelar LLD dari universitas di Frankfurt pada tahun 1931.



Pada saat Nazi berkuasa di Jerman pada sekitar tahun 1933, Drucker di tawari untuk bekerja di Kementrian Informasi sebagai jurnalis dan dosen. Drucker adalah seseorang yang berpandangan politik konservatif, katolik, seorang yang mendukung ide pemerintahan yang konstitusional dan berlandaskan hukum. Oleh karena itu dia kurang bersimpati kepada rezim Nazi dan menjawab tawaran tersebut dengan menuliskan sebuah monograph – Friedrich Julius Stahl, Conservative Poitical Theory and Historical Change- sebuah tulisan yang merupakan kritik terselubung dan oleh penguasa pada saat itu dianggap tidak dapat dibenarkan dan selayaknya dilarang.



Merasa terancam keselamatannya, walaupun Drucker berpassport Austria, dia meninggalkan Jerman menuju London pada Apri 1933 dan bekerja pada sebuah bank sekaligus aktif menulis artikel untuk beberapa koran di Inggris. Diapun memulai studinya tentang kebangkitan Nazi dan yang pada akhirnya melahirkan buku pertamanya yang dipublikasikan di Inggris yaitu The End of Economic Man: The Origins of Totalitarianism. Pada tahun 1937 dia meninggalkan Inggris menuju Amerika dan memantapkan dirinya sebagai seorang konsultan dan dosen di Sarah Lawrence College, Bronxville, New York dan kemudian juga di Bennington College in Vermont untuk mata kuliah filsafat, pemerintahan dan agama. Pada saat dia mengajar di Bennington pada tahun 1942 (sampai dengan tahun 1950) dia mempublikasikan The Future of Industrial Man, dan kemudian dinobatkan menjadi guru besar dibidang manajemen di New York University. Pada tahun 1971 Drucker menjadi Clarke Professor of Social Science and Management di Claremont Graduate School in Claremont, California. Di tahun 1994 Drucker menjadi Godkin Lecturer di Harvard University.



Dalam publikasinya The Future of Industrial Man, Drucker memprediksikan bahwa Hitler akan kalah. Dia juga berspekulasi tentang situasi setelah perang dunia bahwa perusahaan dagang (business enterprise) akan menjadi institusi yang berperan penting dalam dunia industri, yang mana prinsip dan fungsi kekuasan dan status individu harus diwujudkan. Hal ini menarik perhatian dari Paul Garrett, Vice Chairman dari General Motors dan mengundang Drucker untuk melakukan sebuah studi mengenai kebijakan dan sturktur perusahaan di GM. Tentu saja penawaran ini merupakan kesempatan yang berharga bagi Drucker untuk dapat mempelajari sebuah perusahaan yang besar dari dalam dan merupakan poin tersendiri bagi karirnya sebagai seorang konsultan manajemen.



Salah satu hasil studinya yang utama di GM adalah The Concept of the Corporation. Dalam buku tersebut Drucker mengidentifikasikan kesuksesan sebuah korporasi dengan beberapa karakter manajerial tertentu, pendelegasian dan penetapan tujuan perusahaan yang jelas dan karakter-karakter structural tertentu seperti desentralisasi. Dalam bukunya Drucker juga menganalisa pentingnya marketing (dimana pada saat itu marketing adalah sebuah fungsi yang dihiraukan oeh semua kalangan) dan keseimbangan yang “lembut” antara strategi jangka panjang dan kinerja jangka pendek. Drucker merupakan seorang penulis yang produktif , beberapa tulisan besarnya adalah The Age of Discontinuity (1969), Management: Task, Responsibilities, Practices (1974), Managing in Turbulent Times (1980) and Post-Capitalist Society (1993). Mahakarya Drucker, The Practice of Management, berisikan ide-idenya yang sangat berpengaruh tentang management by objectives and self-control.



The practice of management

Buku ini di publikasikan pada tahun 1954. Dalam buku tersebut, Drucker memutuskan untuk menghindari pakem akademik yang lazim digunakan, misalnya penyebutan seseorang atau pencantuman referensi, tetapi ada seorang ekonom yang menurutnya sangat berjasa yaitu Joseph Schumpeter. Kembali pada tahun 1983, pada saat perayaan seratus tahun kelahiran Joseph Schumpeter, Drucker mengungkapkan bahwa pemikiran-pemikiran Schumpeter akan terus berguna sampai dengan beberapa puluh tahun kedepan. Kontribusi besar Schumpeter pada ekonomi adalah teorinya tentang Business Cycles (1939). Sama seperti Drucker, Schumpeter adalah seorang berkebangsaan Austria yang mengadu nasib ke Amerika pada tahun 1932 dan menjadi staf pengajar yang berpengaruh di Harvard University. Bukunya yang terkenal adalah Capitalism, Socialism and Democracy (1942). Drucker melihat bahwa masyarakat dan bisnis mempunyai siklus yang sama yaitu penciptaan (creation), pertumbuhan (growth), stagnasi (stagnation) dan penurunan (decline). Salah satu inovasi adalah menghindari fase stagnasi dan penurunan. Untuk bisa menghindarinya dibutuhkan kemampuan untuk menampilkan terobosan inovatif misalnya menemukan sebuah produk baru atau yang lebih baik, menciptakan pelanggan baru atau penggunaan baru dari sebuah barang lama, dan membuat, menentukan harga dan pendistribusian produk atau jasa dengan cara yang lebih kompetitif. Dalam bibliografi buku yang sama, Drucker memasukan karya Chester Barnard, Henri Fayol, Mary Parker Follett, F.W. Taylor, Lyndall Urwick dan Elton Mayo.



Menurut Mayo berdasarkan eksperimen Hawthorne, para manajer industri yang akan datang akan memilki peran yang penting dalam mempertahankan keseimbangan sosial. Lebih lanjut James Burnham (NYU) dalam bukunya The Managerial Revolution (1941/1962) memprediksikan bahwa para manager akan menjadi elit yang mengatur dalam masyarakat modern. Atas kedua pandangan tersebut, Drucker mencoba untuk memperluas dan menyempurnakan tentang peranan para manajer dan manajemen dalam masyarakat. Manajer adalah element yang sentral (dynamic, life giving) dalam setiap bisnis. Tanpa kepemimpinannya, sumber daya produksi yang ada akan tetap hanya menjadi sumber daya tidak akan pernah menjadi sebuah proses produksi. Dalam kondisi ekonomi yang sangat kompetitif, kualitas dan kinerja para manajer menentukan kesuksesan sebuah bisnis dan pastinya menentukan keberlangsungan hidup dari bisnis tersebut. Kualitas dan kinerja dari para manajer adalah satu-satunya keunggulan yang bisa diharapkan dalam kondisi ekonomi seperti itu. Manajemen juga merupakan sebuah kelompok yang penting dalam masyarakat industri. Kemunculan manajemen sebagai institusi yang vital juga merupakan sebuah even yang penting dalam sejarah sosial. Jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada sebuah institusi dasar baru (new basic institution) yang tumbuh secepat itu (manajemen) dalam sejarah umat manusia. Manajemen datang, tumbuh dan mendapatkan dukungan absolute (sedikit yang menentang, sedikit yang mengganggu, tidak ada kontroversi) dari semua kalangan. Institusi ini diprediksi akan terus ada sampai selama kebudayaan barat ada. Manajemen tidak hanya menjadi dasar dari sistem industri moderen dan kebutuhan dari perusahaan bisnis modern, tapi juga mengekspresikan kepercayaan dasar dari masyarakat barat moderen. Yaitu sebuah kepercayaan bahwa kehidupan umat manusia dapat dikontrol melalui sebuah pengorganisasian yang sistematik dari sumber daya - sumber daya ekonomi. Sebuah kepercayaan bahwa perubahan ekonomi dapat dibuat menjadi sebuah mesin yang sangat tangguh untuk perbaikan umat manusia dan keadilan sosial.



Drucker menekankan bahwa untuk menuju kesuksesan, manajer harus dapat menentukan tujuan dengan baik dan memonitor hasilnya dengan akurat. Ada delapan area penting yang dapat dijadikan dasar yaitu:

1. Kedudukan / posisi di pasar (Market Standing)

2. Inovasi (Innovation)

3. Produktivitas (Productivity)

4. Sumber daya fisik dan finansial (Physical and Financia resources)

5. Kemampuan untuk menghasilkan (Profitability)

6. Kinerja dan perkembangan manajer (Manager performance and develoment)

7. Kinerja dan sikap pekerja (Worker performance and attitude)

8. Tanggung Jawab publik / sosial (Public or Social Responsibility)

Semua pekerjaan harus diarahkkan menuju tujuan perusahaan, para manajer harus fokus untuk mensukseskan tujuan perusahaan. Jika tidak terpenuhi berarti mereka salah arah, telah menyia-yiakan tenaga. Bukan sebuah teamwork yang dihasilkan tetapi malahan gesekan-gesekan, rasa frustasi dan konflik. Drucker menggunakan istilah Management by Objectives sebagai resep untuk merealisasikan ideanya tersebut.



Management by objectives and self-control

Menurut Morgan istilah Management by Objectives sudah ada sejak jaman Fayol yaitu penekanan pada 5 elemen penting, Planning, Organization, Command, Coordination and Control. Dan memang Drucker mengakui bahwa istilah tersebut bukan ditemukan olehnya. Dia mengatakan bahwa Alfred Sloan sudah menggunakan istilah tersebut pada tahun 1950an, hanya saja Drucker memposisikan MBO dalam posisi sentral sedangkan menurut Sloan MBO hanya merupakan efek samping. Menurut Drucker, seringkali di perusahaan besar yang dilandasi oleh birokrasi terjadi kecenderungan bergesernya managerial goal. Dalam perusahaan bisnis, para manajer tidak secara otomatis diarahkan pada tujuan dari perusahaan. Secara alamiah, bisnis mengandung tiga faktor yang sangat kuat untuk terjadinya ”salah arah”: in the specialized work of most managers, in the hierarchical structure of management, and in the differences in vision and work and the resultant insulation of various levels of management. MBO dimunculkan untuk menciptakan proses terciptanya identifikasi tujuan bersama-sama (mutually) antara atasan dan bawahan dalam sebuah organisasi; untuk dapat mengidentifikasi tanggung-jawab para manajer yang bersangkutan dalam kaitannya dengan hasil yang akan dicapainya; sebagai acuan dalam operasional setiap departemen atau unit dan untuk mengukur kontribusi setiap subordinate. Menurut Tarrant MBO mengarahkan fokus sebuah organisasi ke tujuan yang ingin dicapai, ke tujuan suatu aktivitas daripada hanya sekedar proses aktivitas itu sendiri. Jadi bukan menanyakan apa yang sedang saya kerjakan tetapi apa yang ingin saya capai dengan melakukan ini. Yang penting bukan seberapa mengerti seorang teknisi akan sebuah mesin, atau berapa kali dilakukan meeting atau seberapa sering menghubungi pelanggan, tetapi lebih kepada sampai seberapa besar aktivitas-aktivitasnya berkontribusi pada tujuan utama perusahaan. Walaupun dalam bukunya, Drucker hanya menjelaskan garis besar dari MBO, tetapi ide ini merupakan salah satu teknik manajemen yang paling mendominasi pada abad 20. Hal ini dijelaskan oleh Pinder bahwa MBO merupakan salah satu teknik manajerial untuk memotivasi dan memberikan penghargaan kepada karyawan, yang paling banyak diadopsi oleh perusahaan di barat sejak akhir tahun 50an. MBO sangat populer dan banyak di adopsi oleh bisnis modern dan organisasi pemerintahan. Tidak ditemukan definisi tentang MBO, tetapi McConkie mencoba untuk mendefinisikannya sebagai berikut: MBO adalah sebuah proses manajerial dimana tujuan-tujuan organisasi didiagnosa, ditemukan dan disetujui bersama oleh semua pihak dalam organisasi (atasan dan bawahan), dimana tujuan-tujuan organisasi tersebut spesifik, bisa diukur, berjangka waktu, dan digabungkan dalam sebuah action plan; perkembangan dan hasil yang dicapai diukur dan dimonitor dalam sebuah sesi penilaian yang mengacu kepada standar kinerja yang telah disepakati bersama sebelumnya.



Dari definisi diatas, menunjukkan bahwa MBO terhubung dengan proses-proses dalam pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan dan appraisal. Dan juga menekankan pada pengukuran, perencanaan dan kontrol eksternal yang sesuai dengan ilmu manajemen. Penekanan ini yang sedikit membedakan MBO yang dimaksud dengan yang diutarakan oleh Drucker dalam The Practice of Management.



Menurut Drucker, kebutuhan untuk mengukur kinerja adalah sebuah alat untuk mengontrol diri. Dalam perjalanannya dari sebuah konsep menjadi sebuah teknik, MBO lebih di diasosiasikan dengan Bottom-Line management. Apa yang diungkapkan oleh Drucker mengenai MBO bukanlah sebuah Bottom-Line management, kontrol yang dimaksudkan oleh Drucker tidak lebih dari sekedar kontrol diri. Banyak perusahaan yang mengadopsi MBO ini tetapi bukanlah seperti yang diungkapkan oleh Drucker, terutama masalah kontrol. Dasar dari kontrol diri yang diungkapkan oleh Drucker mengacu pada filosofi dari manajemen itu sendiri, yaitu bahwa yang dibutuhkan oleh sebuah bisnis adalah sebuah prinsip manajemen yang memberikan keleluasaan penuh kepada kekuatan individu dan tanggung jawab, dan pada saat yang bersamaan memberikan arahan visi dan bagaimana mencapainya yang berlaku umum, membangun sebuah teamwork dan menyelaraskan tujuan-tujuan individu dengan tujuan utama organisasi yang telah disepakati bersama sebelumnya. Prinsip satu-satunya yang bisa memenuhi semuanya itu adalah management by objectives and self control. MBO dan Self Control membuat para manajer fokus akan satu sasaran, dan menggantikan kontrol luar kepada kontrol dari dalam yang lebih tepat dan efektif. MBO dan Self Control bisa disebut sebagai sebuah filosofi dari manajemen, yang mana mendasarkan pada sebuah analisa terhadapa kebutuhan-kebutuhan yang spesifik dari sekelompok manajemen dan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Selain itu juga mendasarkan pada sebuah konsep dari aksi, perilaku dan motivasi manusia. MBO dan Self Control memastikan bahwa setiap karyawan akan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan melibatkan diri secara total dalam pekerjaannya. Dari sanalah timbul sebuah kebebasan, kebebasan yang berlandaskan pada hukum. Dari sebuah filosofi manajemen, self control menjadi sebuah alat untuk meningkatkan efisiensi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.