sejarah ilmu managemen, chapter 14

WILLIAM OUCHI and THEORY Z



Lahir di Honolulu, Hawaii (1943). Lulus dengan gelar B.A. in Political Economy dari Williams College (1965), MBA dari Stanford University (1967) dan Ph.D. in Business Administration dari University of Chicago (1972). Sekarang adalah Stanford business school professor dan menjadi anggota faculty member of the Anderson School of Management at University of California, Los Angeles. Menjabat di the Sanford and Betty Sigoloff sebagai Professor di bidang Corporate Renewal in the Anderson Graduate School of Management at UCLA.



Dr. Ouchi juga seorang director of AECOM Technology Corporation and FirstFed Financial Corp., Director of The Alliance for College Ready Public Schools, the California Heart Center Foundation, the Japanese American National Museum and the Conrad N. Hilton Foundation.



Latar Belakang Pemikiran

Dr. Ouchi menemukan keadaan dimana perusahaan Jepang yang berdomisili di Jepang sendiri ternyata memiliki kinerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang berdomisili di Amerika. Menurutnya ada lima area kunci yang menyebabkan perbedaan tersebut diantaranya adalah:

- Adanya pendekatan inisiatif bawahan untuk memberikan arus informasi pada atasan



-Membuat Top Manajemen sebagai agen fasilitator atas sebuah keputusan bersama daripada sebagai penetap kebijaksanaan



- Menggunakan manajemen madya sebagai pendorong, pembentuk jawaban atas masalah yang terjadi



- Mengadakan permufakatan sebagai jalan untuk mengambil keputusan



- Memberikan perhatian khusus bagi masing-masing karyawan, memperlakukan sebagaimana manusia seutuhnya



Dr. Ouchi mencoba menganalisa keadaan ini kemudian mulai mengusulkan bentuk organisasi baru yang dinamakan Type Z Organization.



Kontribusi bagi Manajemen

Dalam bukunya yang berjudul ‘Type Z Organization: Stability in the Midst of Mobility’ dikatakan bahwa Type Z adalah yang ideal bagi organisasi sebab dapat mengkombinasikan komitmen dasar kultural dengan nilai-nilai individualistis yang tinggi. Hal ini akan menghasilkan kerjasama yang tinggi diantara karyawan dan interaksi non-individual. Budaya perusahaan yang lama tetap terjaga dan masih terbuka akan afilisiasi bagi budaya baru yang sesuai dengan nilai perusahaan. Efektivitas kerja karyawan bersifat lifetime (komitmen kerja sampai puluhan tahun) dan turnover sangat rendah. Pembuatan keputusan adalah hasil dari permufakatan bersama.



Organisasi Type Z menurut Ouchi bekerja lebih baik daripada tipe X maupun tipe Y sebab tipe Z sangat menghindari Hierarki dan Birokrasi perusahaan namun mengutamakan konsistensi tinggi dalam budaya internal perusahaan.

System Perusahaan dan Pemerintahan di Jepang dalam merekrut tenaga kerja adalah dengan merekrut tenaga kerja baru yang baru saja lulus sekolah kemudian mempertahankan mereka dengan kompensasi-kompensasi sedemikian rupa mereka betah bekerja di suatu institusi sampai batas pensiun mereka (55 tahun). Dengan cara kompensasi-kompensasi yang menjanjikan mereka akhirnya memiliki sedikit keberanian memilih untuk pindah kerja di tempat lain, mereka akhirnya juga harus bekerja lifetime di institusi tersebut. Dengan demikian budaya perusahaan akan semakin kental dan kompetensi pekerja dapat terjaga dengan minimnya turnover yang terjadi.



Hasil Karya Publikasi

Theory Z: How American Management Can Meet the Japanese Challenge (Addison-Wesley, 1981)

Making Schools Work: A Revolutionary Plan to Get Your Children the Education They Need, diterbitkan pada September 2003.



Pendukung dan Kritisi

Beyond Theory Z

Menurut England (1983), Ouchi terlalu sederhana untuk memandang produktivitas perusahaan hanya melalui peningkatan moral tenaga kerja. England setuju dengan Ouchi hanya saja menurutnya Teori Z perlu diperluas lagi konteksnya.



Anti-Theory Z

Keys dan Miller (1984) sangat keras menentang Teori Z milik Ouchi, walaupun hanya secara implisit dikatakan bahwa Ouchi melakukan risetnya tidak berdasarkan keadaan yang sebenarnya di lapangan bahkan juga bukan pandangan dari komentator ataupun praktisioner lainnya. Budaya Jepang dan Amerika sangat berlainan, tidak mudah membandingkan kedua budaya tersebut hanya dengan melihat satu sisi saja. Menurut Keys dan Miller seharusnya teori Z dapat lebih disempurnakan, diadaptasi dan diimplementasikan di perusahaan-perusahaan Amerika.



Japanization

Oliver dan Wilkinson (1992) berusaha menyempurnakan teori Z milik Ouchi. Mereka mengusulkan terminology baru ‘Japanization’. Artinya adalah penggabungan dua unsur, pertama: hasil peniruan (emulation) metode manufaktur Jepang di dunia barat, kedua: peningkatan volume direct investment yang dilakukan Jepang di Western economies.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.