Sejarah ilmu managemen, chapter 1

Mengenal sejarah ilmu managemen, pada buku Management Theory yang di tulis Jhon Sheldrake, 2003, menceritakan perkembangan sejarah manajemen mulai dari Scientific Management yang diprakarsai oleh F.W. Taylor sampai Rasabeth Moss and the change masters.



F. W. Taylor dan Manajemen Ilmiah (20 Maret 1856 - 21 Maret 1915)



Frederick W. Taylor lahir pada tahun 1856, magang di pabrik pompa kecil Philadelphia. Ia bekerja di Midvale Steel Company. Stevens Institute menganugrahkan gelar M.E. kepadanya. Dia mempresentasikan gagasan mengenai pengorganisasian pekerjaan dengan menggunakan manajemen kepada seluruh anggota American Society of Mechanical Engineers (ASME).



Dia menciptakan istilah Scientific Management untuk menggambarkan metode yang dia bangun melalui studi empiris. Kegiatannya, seperti yang lainnya, meliputi topik-topik seperti pengorganisasian pekerjaan dengan manajemen, seleksi pekerja, pelatihan, dan kompensasi tambahan bagi seluruh individu yang memenuhi standar yang dibuat perusahaan. Scientific Management memiliki efek yang besar terhadap Revolusi Industri, baik di Amerika maupun di luar negara Amerika.



Dalam memanajemen suatu industri, Frederick W Taylor menganjurkan spesialisasi, sistem upah diferensial dan struktur organisasi fungsional. Dengan penekanan waktu penyelesaian pekerjaan dapat dikorelasikan dengan upah yang diterima. Metode ini disebut sistem upah differensial.



Frederick Taylor menyatakan bahwa pengamatan ilmiah, analisis dan intervensi harus digunakan untuk meningkatkan cara-cara di mana tugas harus diselesaikan dalam organisasi industri. ia menaruh perhatian pada operasi yang tidak sistematis dari organisasi.



Ide tentang penggunaan metode ilmiah muncul ketika Taylor merasa kurang puas dengan ketidakefesienan pekerja di perusahaannya. Ketidakefesien-an itu muncul karena mereka menggu-nakan berbagai macam teknik yang berbeda untuk pekerjaan yang sama—nyaris tak ada standar kerja di sana. Selain itu, para pekerja cenderung menganggap gampang pekerjaannya. Taylor berpendapat bahwa hasil dari para pekerja itu hanyalah sepertiga dari yang seharusnya. Taylor kemudian, selama 20 tahun, berusaha keras mengoreksi keadaan tersebut dengan menerapkan metode ilmiah untuk menemukan sebuah "teknik paling baik" ("One Best Way") dalam menyelesaikan tiap-tiap pekerjaan.



Ia mengemukakan bahwa dengan memberikan usaha terbaik kepada para pekerja dalam menyelesaikan rancangan yang baik, aktivitas yang terkait dengan pekerjaan, maka organisasi bisa menghemat uang dan meningkatkan produktivitas, sedangkan pekerja bisa menerima gaji yang lebih tinggi berdasarkan kinerja yang mereka perlihatkan dengan lebih baik. Ia mengusulkan untuk membayar pekerja sesuai jumlah pekerjaan yang dilakukan, ketimbang jumlah jam kerjanya.

Karenanya, jika pekerja lebih produktif dalam penyelesaian tugas mereka bisa mendapat banyak uang.



Berdasarkan pengalamannya itu, Taylor membuat sebuah pedoman yang jelas tentang cara meningkatkan efesiensi produksi. Pedoman tersebut adalah:

1. Kembangkanlah suatu ilmu bagi tiap-tiap unsur pekerjaan seseorang, yang akan menggantikan metode lama yang bersifat untung-untungan.

2. Secara ilmiah, pilihlah dan kemudian latihlah, ajarilah, atau kembangkanlah pekerja tersebut.

3. Bekerja-samalah secara sungguh-sungguh dengan para pekerja untuk menjamin bahwa semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu yang telah dikembangkan tadi.

4. Bagilah pekerjaan dan tanggung jawab secara hampir merata antara manajemen dan para pekerja. Manajemen mengambil alih semua pekerjaan yang lebih sesuai baginya daripada bagi para pekerja.



Pedoman ini mengubah drastis pola pikir manajemen ketika itu. Jika sebelumnya pekerja memilih sendiri pekerjaan mereka dan melatih diri semampu mereka, Taylor mengusulkan manajemenlah yang harus memilihkan pekerjaan dan melatihnya. Manajemen juga disarankan untuk mengambil alih pekerjaan yang tidak sesuai dengan pekerja, terutama bagian perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengontrolan. Hal ini berbeda dengan pemikiran sebelumnya di mana pekerjalah yang melakukan tugas tersebut.



Pengukuran secara ilmiah pekerjaan yang spesifik menurut Taylor harus dirancang mulai dari tugasnya sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Ketika langkah penyelesaian sebuah tugas telah ditentukan dengan benar, maka studi waktu dapat dipakai untuk mengetahui tingkat optimal penyelesaian tugasnya. Dengan menentukan tingkat kinerjanya, Taylor mengatakan, bahwa insentif yang diterima bisa diberikan kepada para pekerja yang menunjukkan peningkatan. Ia memberikan penilaian penting bahwa “Waktu adalah uang”, sehingga membangun semangat manajemen ilmiah. Taylor berusaha mempengaruhi semua anggota organisasi untuk menerima manajemen ilmiah agar dapat mempromosikan implementasinya. Taylor telah membuat “revolusi mental” dimana aktivitas organisasi dapat dirumuskan dan dipraktekkan dengan benar melalui sebuah sistem yang tepat.



Taylor menulis tentang banyak kisah-kisah sukses hingga dokumen yang berguna untuk praktek manajemen ilmiah. The Principles of Scientific Management, yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1911, menjelaskan misalnya tentang penggunaan tehnik manajemen ilmiah untuk menguji bagaimana ball bearing diperiksa. Setelah metode kerja secara ilmiah dievaluasi dan tugas dirancang menurut prosedur yang paling efisien, sebanyak 35 pekerja mampu melaksanakan tugas yang telah diselesaikan oleh 120 pekerja, dengan peningkatan kualitas kerja lebih dari dua pertiganya. Beberapa penulis seperti Stephen Robbins menganggap tahun terbitnya buku ini sebagai tahun lahirnya teori manajemen modern.



Demikian pula dalam studi yang dilakukan di pabrik mesin Bethlehem Steel Corporation, Taylor kembali memperlihatkan kegunaan dari teknik manajemen ilmiah dalam meningkatkan produktivitas pekerja dan meningkatkan efisiensinya. Melalui studi waktu di bagian pengolahan batu bara dan biji besi di perusahaan baja, ia memperlihatkan bahwa bobot sekop dengan material yang diangkut oleh pekerja bervariasi dari 16 hingga 38 pound. Sebelum efisiensi maksimum dalam pengangkutan terjadi bobot angkutan bisa melebihi 20 pound. Berdasarkan material spesifik yang telah diangkut pekerja, sekop berbeda memperlihatkan daya angkut rata-rata 21 pound material. Para pekerja menerima perintah untuk mengangkut shovel yang akan digunakan untuk mengangkut material, maupun tehnik pengangkutan yang lebih efektif. Selain itu, pemberian insentif membuat para pekerja mengangkat beban di atas rata-rata.



Hasil intervensi Taylor di Bethlehem Steel Corporation sangat luar biasa. Jumlah material yang diangkut per hari naik dari 16 menjadi 59 ton. Bahkan setelah studi waktu Taylor, dan upah insentif pekerja yang diterima, perusahaan mampu memangkas biaya penanganan menjadi separuhnya. Selain itu, situasi tersebut mampu mengurangi jumlah pekerja yang diperlukan untuk mengangkut material hingga lebih dari 65 persen sampai 75 persen. Hasil tersebut memberikan bukti dramatis bahwa tehnik manajemen ilmiah bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam organisasi industri.



Taylor memperkenalkan beberapa prinsip dasar dan konsep manajemen yang penting dalam The Principles of Scientific Management (1911) yang telah melalui banyak pengujian.

• Ilmu harus menekankan pada rule of thumb dalam memandu rancangan tugas dan aktivitas organisasi. Efektivitas operasi organisasi harus diukur secara obyektif dan ilmiah. Rule of Thumb adalah praktek penentuan pandangan atau jalan pikiran tentang sesuatu obyek dengan cara paling sederhana, yang dilakukan karena sudah dialami berulang-ulang kali, maka akan dijalani dengan sendirinya.

• Harmonisasi harus ditingkatkan dalam organisasi dengan menciptakan kaidah, aturan dan peran formal anggota organisasi secara ilmiah dengan basis dan penunjukkan yang jelas.

• Perusahaan harus menekankan pada individualisme. Manajemen harus bekerja sama dengan pekerja untuk memastikan bahwa tugas diselesaikan dengan sangat efisien, dan berbasis pada cara ilmiah.

• Pencapaian hasil maksimum, termasuk output terbatas, harus menjadi tujuan utama organisasi.

• Semua pekeja harus ditingkatkan kemampuan produksi maksimum dan potensi kerjanya sehingga dengan demikian mereka bisa mencapai efisiensi dan kesesuaian yang lebih baik. Ini dapat dicapai dengan pemilihan dan pelatihan pekerja secara ilmiah untuk tugas-tugas khusus. Hanya pekerja kelas satu yang harus diberikan pekerjaan dalam organisasi.

• Perlunya divisi kerja di antara manajer dan para pekerjanya; manajer harus bertanggung jawab atas penyelesaian tugas dimana mereka memiliki dukungan yang lebih baik untuk menangani tugas ketimbang yang dimiliki bawahannya. Perencanaan dan tugas administrasi harus dilakukan oleh manajer yang terlatih dan ahli dalam tugas, sedangkan pekerja harus diarahkan untuk menyelesaikan tugas yang dirancang oleh manajer. Kontribusi Taylor adalah membuat adanya ”midle manager”

• Perhatian harus diberikan untuk menghilangkan semua bentuk soldiering dalam aktivitas organisasi. Anggota organisasi bekerja serius dan memberikan kemampuan yang terbaik.

• Pekerja harus diberi gaji atas pekerjaan yang dilakukannya melalui penggunaan piece rate. Berdasarkan tingkat yang ditetapkan dalam studi waktu (efisiensi waktu), standar minimum produksi harus ditentukan (standarisasi kinerja), dan pekerja harus dihargai menurut kemampuan standar minimum. “Bonus” kepada pekerja dapat pula diberikan jika standar produksi minimum terlampaui.



Konsep manajemen ilmiah Taylor menekankan pentingnya struktur dan desain dalam penyelesaian tugas organisasi. Penelitiannya memberi andil bagi pengembangan tehnik manajemen dalam standarisasi kerja, perencanaan tugas, studi waktu dan gerak, piece rate, dan penghematan biaya dan terbentuknya bidang studi seperti pengawasan, tehnik industri, manajemen industri, dan manajemen personal.



Akan tetapi, banyak situasi organisasi tidak tampak menguntungkan dari segi penelitian Taylor dan para pendukungnya. Manajemen ilmiah secara khusus telah diterapkan untuk organisasi industri yang memiliki pekerjaan “rutin, berulang, distandarkan, dan mungkin pekerjaan tersebut akan bertambah besar di masyarakat di mana mesin-mesin kini sudah banyak digunakan untuk menyelesaikan proses pekerjaan. Serikat buruh menganggap bahwa cara Taylor dianggap mengeksploitasi buruh, meski sebenarnya Taylor bukan orang yang anti serikat buruh. Sebelumnya, di Amerika Serikat terjadi krisis ekonomi yang membuat banyak pengangguran, sehingga masyarakat pada awalnya mau menerima sistem yang ditawarkan oleh Taylor (dari pada tidak punya pekerjaan), namun pengecilan peran buruh, perbedaan pendapatan yang diterima buruh dengan manajemen, merasa diperlakukan tidak manusiawi, membuat gelombang protes mulai terjadi.



Menurut aliran Taylorisme, pekerjaan dibagi-bagi berdasarkan komponen yang sudah disederhanakan, terspesialisasi, dan baku. Para pekerja mesti beradaptasi terhadap mesin. Pengetahuan yang diperoleh sebagai pekerja hanya sebatas yang perlu saja, dan deskripsi kerja dirancang berdasarkan pengetahuan tersebut. Wewenang dan pengambilan keputusan merupakan hak atasan (manajemen). Berpikir, mengendalikan, dan mengkoordinasikan dilakukan oleh para manajer. Pekerja dibayar hanya untuk bekerja, dan hal ini dinyatakan dengan jelas. Manajemen modern dicirikan dengan kontrol yang ketat, pengambilan keputusan top-down yang sentralistis, serta tugas-tugas yang telah terprogram dan terinci. Tidak perlu repot-repot berpikir, karena justru bisa membahayakan diri sendiri. Berpikir adalah aktivitas yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan pengumpulan informasi, dan hal itu adalah hak prerogatif manajemen, karena untuk itulah manajemen dibayar.



Meskipun Taylor punya banyak prestasi mengesankan, Taylor juga membuat musuh. Beberapa manajer yang juga tuan tanah dan ketika Taylor mengurangi pekerja setempat, mereka mengira ia akan mengurangi penduduk Betlehem Selatan. Ironisnya, sebenarnya untuk itulah mereka menyewa Taylor, tetapi mereka tidak pernah menduga bahwa Taylor akan benar-benar melakukannya. Dalam kenyataannya, para pekerja dipindahkan ke pekerjaan lain dan tidak kehilangan pekerjaan. Setelah perselisihan dengan manajemen baru di Betlehem, Taylor akhirnya dipecat pada bulan Mei 1901.



Taylor tidak mengalami kesulitan finansial dari kehilangan pekerjaan, namun peristiwa itu melukai harga diri. Ia mulai berkonsentrasi pada rumah dan hobinya, dan bersama istrinya, Louise Spooner, mengadopsi tiga anak yatim piatu. Setelah Betlehem, taylor tidak pernah bekerja untuk cari uang lagi.



Sebagian besar bukunya yang terkenal, "The Principles of Scientific Management", ditulis dari transkrip pembicaraan Taylor di beberapa masa setelah ia berhenti bekerja. Sistem yang ia jelaskan dalam bukunya adalah rangkumanb aktual dari segala sesuatu yang telah ia pelajari dari mencoba banyak hal yang berbeda di berbagai perusahaan. Taylor melakukan apa yang menurutnya bisa cocok untuk mengatasi masalah dan motivasi kliennya untuk setiap situasi tertentu. Dia adalah orang pertama dalam sejarah yang merancang usaha secara sistematis untuk meningkatkan baik output dan kehidupan kerja di pabrik"



Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Taylor merasa disalahmengerti oleh para manajer dan aktivis serikat buruh, dan dikecam oleh konsultan peniru. Energinya terkuras jhabis untuk memberi perhatian pada istrinya yang sakit parah. Dalam perjalanan keliling memberi seminar di Midwest, tahun 1915, ia menderita influenza. Ia masuk rumah sakit di Philadelphia dan merayakan ulang tahun ke-59 di sana. Ia meninggal di hari berikutnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.