Monthly Archives: July 2013

Manajemen Waktu dan Aktivitas

AA053817

Manajemen Waktu dan Aktivitas

Setiap orang mendapatkan “hadiah” yang sama setiap hari: waktu, energi, dan pilihan. Time, energy, and choice yang dikelola dengan baik merupakan aset untuk sukses. Dibandingkan dengan metode manajemen waktu, manajemen aktivitas berdasarkan waktu merupakan pilihan yang lebih efektif, menurut Mark Woods dan Trapper Woods dalam buku mereka Attack Your Day! Before It Attacks You.


Kelolalah ketiga hal ini dengan baik, maka sukses sudah di tangan. Pasti!

Manajemen waktu yang ditawarkan Mark dan Trapper ini berbasis aktivitas. Intinya, pilihlah aktivitas dengan prioritas tinggi, catat dengan baik, kelola dengan baik, jalankan dengan baik, dan fokuslah dengan tepat. Dalam Bahasa Inggrisnya: choosing activities, tracking activities, arranging activities, flexicuting activities, and focusing on activities.
Choosing activities. Tentukan dulu hasil yang mau dicapai, setelah itu baru jalankan tahapan-tahapannya.

UJIAN REMIDI

UJIAN REMIDI UAS SEMESTER GENAP 2012/2013 akan dilaksanakan pada :
hari, tanggal : Senin, 29 Juli 2013
kelas A mulai pukul 10.00 s/d 12.00
kelas B mulai pukul 16.00 s/d 18.00

Pengembangan UKM di Indonesia Dihadang Masalah

Metrotvnews.com, Jakarta: Ekonom Universitas Padjajaran Ina Primiana mengkritik program pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia yang seakan kurang perhatian pemerintah.

Ia merujuk pada studi Keenan Institute Asia yang dilangsungkan 2012 untuk melihat problem apa saja yang dihadapi UMKM di Indonesia. Hasilnya, permasalahan ada di negeri ini.

Ina menjelaskan, Keenan Institute meneliti UMKM di ASEAN dengan mengurutkan persoalan-persoalan apa saja yang dihadapi pelaku UMKM.
Lembaga penelitian Thailand tersebut menginventarisir 15 persoalan utama UMKM dengan urutan sebagai berikut: masalah dengan citra wirausahawan, program UMKM pemerintah yang dianggap kurang, sulitnya memulai usaha baru, daya beli konsumen, persoalan pajak, tidak adanya dukungan pemerintah lokal, kurang koordinasi antara lembaga yang memayungi UMKM, kebijakan yang kurang mendukung, kemampuan manajemen pelaku UMKM, kualitas produk yang kurang, kurangnya sumber daya manusia berkualitas, UMKM tidak tahu informasi pasar, UMKM tidak punya kemampuan pemasaran, dan kesulitan akses kredit.

Keenan Institute meneliti di 10 negara di ASEAN untuk menggarisbawahi bagian mana saja yang bermasalah di suatu negara. Misalnya, di Malaysia disebutkan, UMKM masih tersandung regulasi yang kurang mendukung. Namun, kualitas produk UMKM di Malaysia dianggap tidak memiliki masalah.

“Hanya Indonesia yang seluruh indikatornya bermasalah. Ini menunjukkan mau buka bisnis di Indonesia ini sulit sekali,” cetus Ina ketika berbicara dalam Focus Group Discussion Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di kantor Komite Ekonomi Nasional, di Jakarta, Kamis (7/3).

Berdasarkan studi yang sama, Ina menjelaskan, persoalan utama Indonesia ada empat, yakni sumber daya manusia belum baik, kemampuan pemasaran UMKM yang terbatas, iklim usaha yang belum kondusif, serta akses teknologi terbatas.

Tekanan akan pentingnya pengembangan UMKM disampaikan Ina terutama karena Indonesia akan segera memasuki era perdagangan bebas berikutnya, yakni Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai 2015. Pada saat MEA berlaku, tidak hanya arus barang yang bebas dilangsungkan di ASEAN, tapi juga investasi, membuka usaha, dan sebagainya.

“UMKM Indonesia malah masih belum mengerti perdagangan internasional dan prosedur ekspor,” tukas Ina.

Padahal, Ina memaparkan, UMKM bukan sekedar bantalan penahan krisis yang tidak berkontribusi besar bagi ekonomi. Justru, UMKM ternyata menyerap lebih banyak tenaga kerja dan punya kontribusi investasi yang kurang lebih sama dengan usaha besar.

Sekretaris KEN Avilliani menegaskan, Indonesia butuh perubahan pendekatan pengembangan UMKM jika ingin UMKM lokal mampu bersaing di MEA. “MEA 2015 sudah tidak lama lagi tapi UMKM belum banyak mengalami perubahan. Padahal sudah semakin dekat. Ini perlu kebijakan yang bisa mendukung UMKM tidak hanya di pusat, tapi juga daerah,” katanya.

Dalam diskusi yang sama, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM Kementerian Koperasi dan UMKM I Wayan Dipta menjelaskan pemerintah tidak berpangku tangan.

Ia merasa kondisi UMKM menghadapi MEA sudah jauh lebih baik daripada ketika dulu pertama kali Indonesia memasuki perdagangan bebas dengan China lewat ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA).

“Saya dari pertemuan dengan beberapa UMKM kok nggak begitu banyak yang komplain dengan MEA. Tapi, kita coba persiapkan dengan rencana aksi ke depan yang lebih baik,” katanya.

Ia menjelaskan, kementeriannya melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan UMKM, misalnya dengan program finansial seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) termasuk pengembangan venture capital, melakukan misi dagang memamerkan karya UMKM di luar negeri, diklat pelaku usaha, hingga pengembangan inkubator bisnis.

“Kita dengan Kementerian Dalam Negeri sedang berusaha mengurangi birokrasi. Sekarang 94% dari seluruh Pemda sudah siap dengan one stop service,” katanya lagi.

Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah menambahkan, ia juga punya berbagai cara mendorong industri kecil menengah (IKM) agar bernilai tambah. Dengan demikian, UMKM Indonesia tidak hanya menjadi pedagang atau penjual barang yang tidak diolah.

Program-program yang dilakukan Kemenperin di antaranya ialah bantuan revitalisasi mesin, bantuan untuk memperoleh sertifikat Standard Nasional Indonesia (SNI) yang cukup mahal, hingga memperkuat basis IKM di luar Jawa.

“Kita akan punya Desa Industri Mandiri, tapi ini masih try out ya belum selesai. Semangatnya adalah hilirisasi sehingga setiap sumber daya alam yang ada di desa tersebut bisa diolah. Ini supaya nanti ketika MEA, tidak ada UMKM asing yang masuk, berusaha di sini, dan mengalahkan usaha lokal dan ini tidak bisa dilarang. Kita tidak bisa jaga semua tempat, tapi paling tidak di desa-desa kita jaga,” papar Euis.

Desa Industri Mandiri ini sudah ada 18, dengan konsentrasi besar di Jawa: lima di Jawa Timur, satu di Jawa Tengah, 11 di Jawa Barat, dan satu di Gorontalo.

Kepala Sub Direktorat MEA II Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Darsem Lumban Gaol menjelaskan, pihaknya sudah melakukan perbaikan di sistem ekspor Indonesia lewat Indonesian National Single Window (INSW). Teknis-teknis perdagangan internasional lainnya pun terus dipermudah.

Inventaris produk unggulan Indonesia yang saat ini sudah diekspor intra ASEAN ialah tekstil dan produk tekstil, elektronik, karet, produk hutan, alas kaki, otomotif, udang, coklat, dan kopi. Sedangkan produk yang potensial untuk dikembangkan untuk diekspor ke ASEAN mencakup kulit dan produk kulit, peralatan dan instrumen medis, rempah-rempah obat, makanan olahan, essential oil, ikan dan produk ikan, produk kerajinan, perhiasan, bumbu, dan peralatan tulis selain kertas.

Euis menambahkan, ia bersama dengan 19 kementerian lainnya serius dalam pengembangan UMKM. Meski terkesan tumpang tindih, Euis justru mengatakan, pemerintah berupaya agar tidak ada permasalahan yang tidak mampu diselesaikan.

“Kalau diibaratkan genteng, genteng kan juga overlapping. Tapi kan bagus, daripada nanti bocor. Yang penting, overlappingnya bareng-bareng nggak ngeroyok satu tempat. Karena kan sebetulnya republik ini luas sekali,” lanjut Euis. (Gayatri/Adf)
Editor: Asnawi Khaddaf

Sumber : http://www.metrotvnews.com