Monthly Archives: April 2016

Bisnis Cetak Foto Jepret yang Menggiurkan

Foto booth sudah beberapa tahun ini menjadi salah satu tren pada setiap acara pernikahan maupun acara lainnya. Para pengunjung di suatu acara biasanya sangat senang bisa berfoto bersama rekan-rekannya, kemudian bisa mendapatkan langsung hasil cetakannya yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan. Nah, Andri Yadi, pendiri startup Dycode pun tak ingin kehilangan momen saat pernikahannya. Ia ingin membuat yang spesial di hari bahagianya tersebut. Akhirnya bersama tim, membuat layanan cetak bernama Jepret yang akan digunakan untuk melayani para tamu undangan berfoto.

IMG-20160411-WA0003_resized_2(1)

Biasanya, para tamu undangan harus mengantre untuk foto booth. Dengan Jepret, mereka bisa memanfaatkan layanan tesebut untuk mencetak foto tanpa perlu mengantre panjang. Cara kerja Jepret cukup mudah, pengunjung cukup berfoto melalui ponselnya masing-masing lalu diunggah ke media sosial seperti Twitter, Instagram dan Path disertai dengan hastag yang telah ditentukan oleh penyelenggara acara. Dengan alat bernama Allegra, foto yang berhastag akan tercetak otomatis dengan ukuran kertas foto 4R.

Idenya ternyata direspons positif oleh para tamu undangan yang penasaran dengan teknologi baru ini. Dari sinilah ide bisnis itu tumbuh pada tahun 2014. Namun satu tahun pertama memang menjadi suatu tantangan bagi Dycode untuk mengenalkan Jepret kepada masyarakat. Startup ini mulai serius menggarap bisnis ini dengan mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut. Agar lebih dikenal luas, di tahun 2015, Dyan R.Helmi, CMO Dycode mengungkapkan, Jepret mulai mengikuti pameran-pameran pernikahan. Ia juga mengenalkan teknologinya kepada wedding organizer.

IMG-20160411-WA0004_resized(1)

Bisnisnya pun mulai berkembang, kini Jepret sudah mempunyai 10 alat yang disewakan untuk acara pernikahan hingga acara-acara di perusahaan. Mereka juga telah bekerja sama dengan beberapa hotel di Bandung. Perusahaannya selalu berusaha menjadi sponsor acara-acara di Bandung. Katanya, cara tersebut menjadi alat yang efektif untuk melakukan promosi.

“Peminatnya luar biasa, bulan Maret saja kami jalan sama satu perusahaan untuk melakukan kampanye selama dua minggu,” jelasnya saat diwawancara oleh SWA Online.

Walaupun mempunyai beberapa kompetitor, ia mengaku tidak khawatir lantaran teknologi yang dibuatnya berbeda. Peralatan miliknya sudah otomatis atau tidak memerlukan komputer untuk mencetak fotonya. Dari segi harga pun kompetitif, untuk acara pernikahan yang berlangsung tiga jam dikenakan harga Rp 4 juta dengan pencetakan foto yang tidak terbatas. Sedangkan untuk acara yang memakan waktu selama 6 jam dikenakan biaya sebesar Rp 6 juta. Dalam sebulan bisnisnya bisa mendapatkan omset minimal Rp 30 juta hingga ratusan juta per bulannya. (EVA)

Sumber: http://swa.co.id/entrepreneur/bisnis-cetak-foto-jepret-yang-menggiurkan

Go-Jek Paling Kreatif & Inovatif, Ini Alasannya

Perusahaan Anda kreatif dan inovatif? Jawabannya bisa beragam. Kreativitas bisa saja terinspirasi dari apa yang ada di luar negeri. Contohnya, aplikasi ojek online buatan Go-Jek. Meski begitu, mereka melihat peluang besar jika diterapkan di Indonesia.

“Bicara inovasi yang mana kreativitas sebagai unsurnya, bukan sekadar perubahan dari yang lama ke yang baru. Suatu hal baru bisa dikatakan inovasi kalau itu diminati. Kalau tidak, itu hanya sebatas perubahan yang tidak ada artinya,” kata Martinus Sulistio Rusli, Direktur Sekolah Tinggi Manajemen PPM.

Menurut dia, ada juga kreativitas yang dibawa dari luar negeri tetapi tidak ada demand di pasar domestik. Kehebatan dalam melihat peluang inilah yang disebut kreatif, tidak hanya memindahkan aplikasi yang telah digunakan di luar negeri ke Tanah Air.

Dua Jelita di Balik Go-Life Besutan Go-Jek

Dayu Dara Permata (kiri) dan Windy Natriavi, Co-Founder Go-Life. (Foto: Ihsan Sulaiman/SWA).

Dayu Dara Permata (kiri) dan Windy Natriavi, Co-Founder Go-Life. (Foto: Ihsan Sulaiman/SWA).

Muda, jelita dan smart, tiga kata pas disematkan untuk kedua pemudi bangsa Indonesia ini. Adalah Dayu Dara Permata dan Windy Natriavi, sosok di balik layanan bisnis non transportasi on-demand di Go-Jek. Lewat bendera Go-Life, kedua sahabat itu membuat berbagai layanan di sektor informal, seperti pembersih, pemijat, dan penyedia jasa kecantikan.

Malas Inovasi, Siap-Siap Mati

Evolusi di tubuh perusahaan adalah harga mati. Perusahaan yang mampu bertahan dan mencetak kinerja mengagumkan biasanya rutin melakukan inovasi. Jangan tunggu pendapatan mulai stagnan baru mulai merencanakan inovasi. “Saat revenue perusahaan masih naik dan berlimpah profit, jangan pelit sama inovasi. Banyak contoh perusahaan yang walau sudah punya aplikasi namun tak kunjung berinovasi,” kata Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting.

Dia mencontohkan Go-Jek yang belum genap setahun meluncurkan aplikasi ojek online sudah berevolusi berkali-kali. Mereka ogah hanya bersandar pada Go-Ride dan memperluas layanan lewat Go-Food, Go-Box, Go-Tix, Go-Mart, Go-Send, Go- Busway. Bahkan, kini mulai dengan inisiasi tanpa kolaborasi B2B di Go-Clean, Go-Massage dan Go-Glam.

“Bayangkan kalau hanya fokus pada Go-Ride? Mereka akan terus terbelenggu dengan persaingan subsidi yang sangat kuat dengan kompetitor mereka. Justru ini pelajaran untuk semua perusahaan. Jangan tunggu nanti saat kepepet,” ujar dia.