Dua Jelita di Balik Go-Life Besutan Go-Jek

Dayu Dara Permata (kiri) dan Windy Natriavi, Co-Founder Go-Life. (Foto: Ihsan Sulaiman/SWA).

Dayu Dara Permata (kiri) dan Windy Natriavi, Co-Founder Go-Life. (Foto: Ihsan Sulaiman/SWA).

Muda, jelita dan smart, tiga kata pas disematkan untuk kedua pemudi bangsa Indonesia ini. Adalah Dayu Dara Permata dan Windy Natriavi, sosok di balik layanan bisnis non transportasi on-demand di Go-Jek. Lewat bendera Go-Life, kedua sahabat itu membuat berbagai layanan di sektor informal, seperti pembersih, pemijat, dan penyedia jasa kecantikan.

Malas Inovasi, Siap-Siap Mati

Evolusi di tubuh perusahaan adalah harga mati. Perusahaan yang mampu bertahan dan mencetak kinerja mengagumkan biasanya rutin melakukan inovasi. Jangan tunggu pendapatan mulai stagnan baru mulai merencanakan inovasi. “Saat revenue perusahaan masih naik dan berlimpah profit, jangan pelit sama inovasi. Banyak contoh perusahaan yang walau sudah punya aplikasi namun tak kunjung berinovasi,” kata Yoris Sebastian, Founder & Creative Thinker OMG Consulting.

Dia mencontohkan Go-Jek yang belum genap setahun meluncurkan aplikasi ojek online sudah berevolusi berkali-kali. Mereka ogah hanya bersandar pada Go-Ride dan memperluas layanan lewat Go-Food, Go-Box, Go-Tix, Go-Mart, Go-Send, Go- Busway. Bahkan, kini mulai dengan inisiasi tanpa kolaborasi B2B di Go-Clean, Go-Massage dan Go-Glam.

“Bayangkan kalau hanya fokus pada Go-Ride? Mereka akan terus terbelenggu dengan persaingan subsidi yang sangat kuat dengan kompetitor mereka. Justru ini pelajaran untuk semua perusahaan. Jangan tunggu nanti saat kepepet,” ujar dia.

Irzan Raditya Hadirkan Asisten Pribadi dengan YesBoss

Cukup lama menetap di Jerman selama 8 tahun membuat orang tua Irzan Raditya  memintanya untuk kembali  ke Indonesia. Ia bercerita, setelah beberapa tahun tidak kembali ke Indonesia membuatnya cukup terkejut dengan ritme dan pergerakan hidup di Ibukota. “Rasanya hectic sekali dan kayaknya saya ingin memiliki asisten pribadi,” ujarnya. Berawal dari keinginan sederhana seperti itu membuatnya terpacu untuk membuat sebuah start up yang dapat memenuhi kebutuhan warga Jakarta khususnya yang semakin dinamis.

“Saya lihat juga orang Indonesia sangat senang dengan chatting dan tentunya semua orang ingin dilayani. Jadi akhirnya di tahun 2015 saya dan 3 teman memutuskan untuk membuat YesBoss,” kata dia. Dengan modal awal sekitar Rp70 juta, pria tamatan Computer Sicience di Institut HTW Berlin ini yakin dan mantap untuk memulai bisnisnya bersama tiga orang rekannya.

BPS: Pengeluaran Orang Kaya RI Turun, Orang Miskin Naik

Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan rasio gini Indonesia per September 2015 adalah 0,40, atau turun 0,01 dibandingkan periode Maret 2015 yang sebesar 0,41. Ini disebabkan oleh pengeluaran orang kaya di Indonesia turun, sementara orang miskin justru naik.

“Iya (pengeluaran yang berpendapatan tinggi) turun dari sisi persentasenya  dan bisa juga absolutnya,” ungkap Kepala BPS, Suryamin, dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Suryamin menyebutkan, 20% masyarakat Indonesia yang berpenghasilan tinggi mengalami penurunan, dari 48,25% pada September 2015 menjadi 47,84% pada Maret 2015, terhadap pengeluaran penduduk per kapita.